Muhammad Ikbar, 5 tahun, warga desa Koto Sekilan, Kecamatan Sitinjau Laut Kabupaten Kerinci hanya terbaring lemas. Tak tampak keceriaan seperti anak-anak seusianya.
Ikbar didiagnosa mengalami gizi buruk. Parahnya lagi, akibat keterbatasan ekonomi, tak banyak yang bisa dilakukan untuk menyembuhkannya.
Berat badan putra pasangan Samenuddin (28) dan Maryatun(26) ini terus menurun hingga hanya 7 kg. Padahal ukuran normal anak berumur 5 tahun biasanya mencapai 14-17 kg.
Maryatun mengaku anaknya sudah dibawa ke puskesmas terdekat, dan dokter menyatakan putranya menderita gizi buruk. Namun keterbatasan biaya membuat Maryatun pasrah dengan keadaannya.
"Sudah dibawa ke puskesmas Hiang beberapa bulan yang lalu, kata dokter anaknya menderita gizi buruk. Terus dikasih rujukan ke rumah sakit. Tapi setelah berobat tidak ada perubahan, seperti biasa saja," ujar Maryatun, Rabu (19/8) kemarin.
Ketika umur 1 tahun, kata Maryatun, Ikbar masih terlihat normal, gemuk dan perkembangan pun biasa. Tapi sekarang badannya terus menyusut, tidak bisa berjalan, dan terbaring lemah, seperti anak berumur 2 tahun saja.
Ia mengatakan penghasilannya sebagai buruh tani tak cukup untuk membiayai biaya berobat. "Makan saja kadang susah," kata Maryatun yang juga mengaku bahwa suaminya sudah hampir dua tahun di Malaysia dan tak pernah mengirimkan biaya.
Kades Koto Sekilan, Askar Salputra membenarkan kondisi yang dialami Ikbar. Ia meminta perhatian pemerintah untuk membantu biaya pengobatan warganya yang kekurangan gizi . "Kita kasihan dengan keadaannya seperti itu," kata Askar.
Kadis Kesehatan Kabupaten Kerinci Amsal Rabit juga mengaku adanya temuan kasus gizi buruk. Petugas dinas kesehatan, kata Amsal, sudah meninjau ke lokasi.
"Kita sudah anjurkan untuk dibawa berobat. Tidak ada alasan tidak ada biaya. Kan bisa pakai Jamkesmas. Itu tugas kepala desa, nanti koordinasi dengan dinas sosial," ujarnya via telepon selular tadi pagi (20/8). (Fan/men)
sumber: jambi update






